ABCkotaraya.id
Image default
Keuangan

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Mampukah Indonesia Bangkit?

Proyeksi mengenai kondisi ekonomi Indonesia 2021 menjadi pertanyaan bagi sebagian besar pelaku usaha di Indonesia. Para ekonom menganggap ekonomi Indonesia di 2021 akan mengalami krisis. Prediksi bukan tanpa bukti, melihat dari defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), rapuhnya ketahanan fiskal, dan menurunnya daya beli masyarakat. Namun, Menteri keuangan RI, Sri Mulyani tetap optimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh di 2021.

Bank Indonesia bahkan meyakini ekonomi Indonesia di 2021 akan membaik. Program vaksinasi massal dan mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 menjadi kunci. Ada 5 kunci kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia: 1) Pembukaan sektor produktif, 2) percepataan stimulus fiskal, 3) peningkatan sisi kredit dari permintaan dan penawaran, 4) stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial, dan 5) digitalisasi ekonomi dan keuangan.

BI meyakini pemulihan ekonomi nasional yang sedang berlangsung diprakirakan akan semakin meningkat. Pada 2021, diyakini perekonomian Indonesia akan tumbuh di angka 4,8%-5,8%. Di dukung oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi swasta dan pemerintah, serta investasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Strategi Membangkitkan Ekonomi Bali Dengan Automasi Keuangan Bisnis

Namun melihat kebijakan Pemerintah serta penambahan kasus baru Covid-19 yang tidak juga menurun, membuat para ekonom di Indonesia membantah pernyataan bahwa ekonomi Indonesia akan meningkat di 2021.

Ekonom Membantah

Managing Director Political Economy & Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan pesimis bahwa ekonomi akan tumbuh tahun ini. “Tanpa ada pengendalian yang baik maka ekonomi akan sulit untuk bangkit,” terang Anthony seperti dikutip dari JPNN.com.

Hal ini tercermin dari rapuhnya ketahanan fiskal dan besarnya defisit anggaran yang terjadi. Ia menganggap Indonesia menghadapi fiscal trap yang berbahaya, yaitu pendapatan masyarakat turun, sementara beban bunga naik. Belum lagi rasio utang Indonesia yang meningkat tajam menjadi alasan ekonomi Indonesia masih sulit naik menurut Anthony.

Sementara itu, Menurut ekonom senior, Rizal Ramli menyatakan ekonomi Indonesia akan lebih suram dibandingkan tahun 2020. “Pemerintah menjanjikan angin surga, 2021 ini ekonomi akan balik 5,5 persen. Mohon maaf, janji surga itu tidak ada basisnya, sebelum Covid-19 ekonomi tumbuh hanya 5,1 persen. Ini Covid-19 masih banyak kok bisa tumbuh 5,5%,” terang Rizal seperti dikutip dari VOAIndonesia.com.

Rizal Ramli proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021
Source: Rmol.id

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian tersebut menganggap, terpuruknya ekonomi Indonesia di 2021 disebabkan banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan lantaran pandemi. Sehingga hal tersebut mempengaruhi daya beli masyarakat yang ikut menurun.

Sama dengan Anthony, Rizal menyebutkan penyebab ekonomi Indonesia masih cukup suram diakibatkan oleh utang Pemerintah yang makin banyak. Posisi utang Indonesia pada November 2020 sudah menyentuh angka US$ 416,6 milliar atau sekitar RP 5,832,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000. Bahkan Kementerian Keuangan menargetkan mendapatkan utang Rp 342 triliun di 2021. Hal ini akan membuat utang Indonesia akan menumpuh dan menyentuh Rp 6000 triliun di 2021.

Data Bank Dunia dan IMF

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021
Source: Rappler.com

World Bank atau Bank Dunia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 4,4% di tahun 2021. Pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada zona positif di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Mengutip Detik.com, laporan Bank Dunia menyebut pertumbuhan didasarkan pada peluncuran vaksin di kuartal pertama 2021. Indonesia masuk dalam zona positif di kawasan Asia. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki risiko yang berasal dari Covid-19. Sebab, pandemi belum bisa di pastikan kapan usai.

Sementara itu, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021. Pada Oktober 2020, IMF menyatakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh di kisaran 6,1%. Di awal tahun IMF merevisi pernyataan tersebut dan menyebut ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,8%. Namun ekonomi Indonesia akan tumbuh 6% di 2022.

Baca Juga: Ancaman Ekonomi dan Faktor Penyebab Ancaman Di Bidang Ekonomi yang Harus Dihindari

Outlook tahun 2021 positif. Didukung oleh kebijakan yang kuat dan rencana distribusi vaksin Covid-19 yang didukung oleh perekonomian dan keuangan global yang membaik,” seperti dikutip dari Kompas.com

Meskipu prediksi IMF telah di revisi sama dengan target Pemerintah Indonesia, namun demikian iklim perekonomian dan keuangan masih diliputi ketidakpastian. Sebab, distribusi vaksin telah berjalan dan berdampak positif, tetapi bila ditunda, dapat menyebabkan pandemi berlarut sehingga menjadi risiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Menurut IMF, Pemerintah harus melakukan pemulihan kebijakan makro, salah satunya mengembalikan defisit APBN dikisaran 3% terhadap PDB. IMF menilai strategi fiskal Pemerintah pada 2021 dapat mendorong proses pemulihan ekonomi.

Kata Pengusaha

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani berpendapat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 akan menyentuh 3% sampai 5%. Meski begitu, pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada perkembangan penanganan Covid-19  dalam negeri dan pemulihan kepecayaan masyarakat untuk konsumsi dan investasi di Indonesia.

Namun, saat ini di awal Januari 2021 penambahan kasus Covid-19 terus meningkat hingga menyentuh angka di atas 10 ribu sejak 12 Januari 2021. 12 Januari 2021: 10.047 kasus, 13 Januari 2021: 11.278 kasus, 14 Januari 2021: 11.557 kasus, 15 Januari 2021: 12,818 kasus, dan 16 Januari 2021: 14.224 kasus. Angka tersebut menunjukan kasus baru semakin meningkat tajam, tidak menunjukan penurunan.

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani menilai, target pertumbuhan ekonomi akan sulit tercapai jika Pemerintah tidak konsisten dalam menerapkan kebijakan yang konsisten dan menangani pandemi dengan baik.

Baca Juga : Membangkitkan UMKM Yogyakarta Di Tengah Pandemi

Pemerintah telah membuat kebijakan pebatasan kegiatan masyarakat di Jawa Bali sejak 11-25 Januari 2021. Kebijakan ini tentu akan menganggu ekonomi di Pulau Jawa dan Bali, terlebih 60% nasional di sumbang dari Jawa Bali. Sebanyak, 60,74% usaha/perusahaan atau sebanyak 16,2 juta berada di Jawa Bali, menurut data sensus ekonomi 2016. Apabila perekonomian Jawa Bali mengalami penurunan, hal ini akan berdampak pada perekonomian nasional.

Pengusaha meminta masyarakat bisa menerapkan protokol kesehatan secara ketat, agar pembatasan kegiatan tidak diperpanjang setelah 25 Januari 2021 nanti. Jika Pemerintah memperpanjang berdasarkan data penambahan kasus baru selalu meningkat signifikan, tentu pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 2021 pun bisa saja minus.

Related posts

Mengenal Jenis-Jenis Laporan Keuangan Perusahaan

Fattah Miyaz

Siklus Akuntansi Biaya Pada Perusahaan Dagang

Fattah Miyaz

Inilah Masalah Keuangan Yang Sering Dihadapi Banyak Orang

Fattah Miyaz

Leave a Comment